Penyakit Porphyria
Abnormalitas biosintesis heme menimbulkan
gangguan yang dikenal dengan porfiria. Pada porfiria terjadi peningkatan
ekskresi porfirin atau prazat porfirin. Kelainan ini jarang terjadi.
Porfiria dibagi dalam 2 golongan besar yaitu : (1) Porfiria herediter;
(2) Porfiria didapat (acquired porphyria). Organ atau sel yang paling
banyak terkena pada porfiria umumnya merupakan organ atau sel yang aktif
menyintesis heme seperti sumsum tulang dan hati. Oleh karena itu
porfiria juga sering diklasifikasikan berdasarkan organ atau sel yang
terkena yaitu porfiria eritropoetik dan hepatik.
Porphyria adalah suatu kelainan
pada proses biosintesis heme, bagian dari hemoglobin, komponen sel darah
merah yang berfungsi mengikat oksigen dan mengalirkannya ke seluruh
tubuh. Pada penderita porphyria, terjadi peningkatan ekskresi porphyrin,
enzim yang berperan dalam sintesis heme. Penumpukan porphyrin dalam
jaringan tubuh menyebabkan urin berwarna merah keunguan, kulit sangat
sensitif terhadap sinar matahari, dan -dalam beberapa kasus-
penderitanya mengalami anemia parah.
Kemiripan beberapa gejala porphyria di atas dengan ciri-ciri vampir dan drakula yang melegenda di masyarakat menimbulkan dugaan bahwa porphyria adalah penyakit di balik mitos tersebut. Anemia parah dan urin berwarna merah keunguan disinyalir sebagai akar lahirnya legenda vampir peminum darah. Dugaan ini dikemukakan pertama kali oleh seorang biokimiawan, David Dolphin dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science tahun 1985.
Porphyria berasal dari kata Yunani, porphura yang artinya warna ungu. Nama ini mengacu pada perubahan warna beberapa cairan tubuh menjadi ungu, salah satunya urin. Porphyria terdiri dari beberapa tipe dengan beragam gejala. Tidak semua jenis porphyria memperlihatkan gejala ke-‘vampir’-an. Secara umum, porphyria dibagi dua: acute porphyria dan cutaneous porphyria. Acute porphyria menyerang sistem saraf, dengan gejala nyeri di bagian perut, muntah, konstipasi, diare, lemah otot, demam, dan halusinasi. Cutaneous porphyria menyerang neuron saraf kulit, menyebabkan kulit penderitanya sangat sensitif dan mudah melepuh jika terkena sinar ultraviolet. Porphyria jenis inilah yang sering diidentikkan dengan ciri-ciri vampir.
Porphyria cutanea tarda, jenis porphyria yang paling sering ditemui, termasuk tipe yang menyerang saraf kulit. Dalam kaitannya dengan lokasi penumpukan porphyrin, porphyria juga dibagi menjadi dua: hepatic porphyria (penumpukan di liver/hati) dan erythropoietic porphyria (penumpukan di sumsum tulang produsen sel darah merah). Porphyria merupakan kelainan yang langka, dan bukan penyakit menular. 20% penderita mendapatkan porphyria melalui pewarisan genetik, sedangkan 80% disebabkan oleh penggunaan narkotika dan alkohol.
Ada beberapa orang terkenal yang diduga kuat menderita porphyria, antara lain: George William III (raja Inggris 1760-1820), Mary Stuart (sepupu George III, ratu Skotlandia 1542-1567), Vincent van Gogh (pelukis impresionis), dan Nebukadnezar II (raja Babylonia 605-562 SM). Vampir memang legenda, mereka tidak nyata. Namun, orang yang memiliki ciri-ciri vampir, ternyata ada!
Kemiripan beberapa gejala porphyria di atas dengan ciri-ciri vampir dan drakula yang melegenda di masyarakat menimbulkan dugaan bahwa porphyria adalah penyakit di balik mitos tersebut. Anemia parah dan urin berwarna merah keunguan disinyalir sebagai akar lahirnya legenda vampir peminum darah. Dugaan ini dikemukakan pertama kali oleh seorang biokimiawan, David Dolphin dalam pertemuan American Association for the Advancement of Science tahun 1985.
Porphyria berasal dari kata Yunani, porphura yang artinya warna ungu. Nama ini mengacu pada perubahan warna beberapa cairan tubuh menjadi ungu, salah satunya urin. Porphyria terdiri dari beberapa tipe dengan beragam gejala. Tidak semua jenis porphyria memperlihatkan gejala ke-‘vampir’-an. Secara umum, porphyria dibagi dua: acute porphyria dan cutaneous porphyria. Acute porphyria menyerang sistem saraf, dengan gejala nyeri di bagian perut, muntah, konstipasi, diare, lemah otot, demam, dan halusinasi. Cutaneous porphyria menyerang neuron saraf kulit, menyebabkan kulit penderitanya sangat sensitif dan mudah melepuh jika terkena sinar ultraviolet. Porphyria jenis inilah yang sering diidentikkan dengan ciri-ciri vampir.
Porphyria cutanea tarda, jenis porphyria yang paling sering ditemui, termasuk tipe yang menyerang saraf kulit. Dalam kaitannya dengan lokasi penumpukan porphyrin, porphyria juga dibagi menjadi dua: hepatic porphyria (penumpukan di liver/hati) dan erythropoietic porphyria (penumpukan di sumsum tulang produsen sel darah merah). Porphyria merupakan kelainan yang langka, dan bukan penyakit menular. 20% penderita mendapatkan porphyria melalui pewarisan genetik, sedangkan 80% disebabkan oleh penggunaan narkotika dan alkohol.
Ada beberapa orang terkenal yang diduga kuat menderita porphyria, antara lain: George William III (raja Inggris 1760-1820), Mary Stuart (sepupu George III, ratu Skotlandia 1542-1567), Vincent van Gogh (pelukis impresionis), dan Nebukadnezar II (raja Babylonia 605-562 SM). Vampir memang legenda, mereka tidak nyata. Namun, orang yang memiliki ciri-ciri vampir, ternyata ada!
Berikut rincian penyakit Porphyria :
- Acute Intermittent Porphyria
Merupakan penyakit yang diturunkan secara
autosomal dominan dan biasanya menjadi nyata setelah usia pubertas.
Pada penderita ini aktivitas enzim uroporfirinogen I menurun sehingga
sintesis AmLev sintase meningkat. Akibatnya terjadi akumulasi AmLev dan
porfobilinogen di jaringan dan cairan tubuh yang kemudian diekskresi
melalui urine. Kedua bahan ini tak berwarna tetapi jika terkena
sinar/udara porfobilinogen akan menjadi porfirin yang berwarna, sehingga
urine penderita menjadi berwarna gelap jika terkena sinar/udara.
Akumulasi AmLev dan porfobilinogen
menimbulkan efek toksik pada syaraf abdomen dan SSP, sehingga
menimbulkan gejala klinis nyeri perut, muntah-muntah, dan gangguan
neuropsikiatri. Kemungkina AmLev juga dapat menghambat enzim ATP-ase di
jaringan syaraf atau mungkin AmLev diambil jaringan otak sehingga
melumpuhkan hantaran impuls syaraf.
Penderita ini tak mengalami kepekaan yang
abnormal terhadap cahaya pada kulitnya. Serangan akut sering terjadi
sebagai akibat dari pemberian obat-obatan seperti barbiturat, hormon
estrogen dan steroid yang dalam proses metabolismenya memerlukan heme
(sitokrom-P450). Pemakaian heme mengakibatkan konsentrasinya menurun
sehingga hambatan terhadap AmLev sintase menurun akibatnya aktivitas
AmLev sintase meningkat, produksi AmLev dan porfobilinogen juga
meningkat, terjadilah serangan akut.
- Congenital Erytropoetic Porphyria
Merupakan penyakit autosomal resesif.
Disini terjadi ketidakseimbangan antara aktifitas uroporfirinogen I
sintase dan uroporfirinogen III kosintase, dimana terdapat kekurangan
uroporfirinogen III kosintase, sehingga pembentukan derivat yang
simetris lebih besar dari yang asimetris. Karena koproporfirinogen
oksidase tidak dapat bekerja pada koproporfirinogen I (bentuk yang
simetris) mengakibatkan terjadinya akumulasi koproporfirinogen I dan
prazat-prazat sebelumnya.
Penderita ini mengekskresi
uroporfirinogen I dan koproporfirinogen I dalam urine yang segera
dioksidasi menjadi uroporfirin I dan koproporfirin I yang berwarna
merah. Dengan sinar UV gigi penderita memberikan fluoresensi merah,
sedangkan kulitnya menunjukkan fotosensitifitas yang berlebihan dan
kerapuhan yang menyolok.
Porfirinogen akan mengalami oksidasi
menjadi porfirin. Derivat porfirin yang bersesuaian akan bereaksi
terhadap cahaya tampak dengan panjang gelombang 400 nm. Pajanan cahaya
ini menyebabkan porfirin terangsang dan bereaksi dengan oksigen
molekuler sehingga terbentuk radikal oksigen. Karena reaktifitasnya
radikal oksigen yang terbentuk dapat menyerang berbagai komponen sel
termasuk lisosom. Lisosom yang rusak mengeluarkan enzim pengurai yang
mengakibatkan kerusakan dan kecacatan pada kulit. Hal inilah yang
mendasari terjadinya fotosensitifitas berlebihan yang mengakibatkan
penderitanya menyukai kegiatan di malam hari. Kenyataan ini, ditambah
dengan gangguan neuropsikiatri yang terjadi menimbulkan spekulasi bahwa
prototipe manusia srigala adalah penderita porfiria.
Pemberian β karoten dan tabir surya dapat
mengurangi fotosensitifitas. β karoten bekerja dengan cara menetralisir
radikal oksigen (bertindak sebagai antioksidan) sedangkan tabir surya
dapat menyaring/mengurangi paparan cahaya tampak.
- Coproporphyria
Merupakan penyakit yang diturunkan secara
autosomal dominan. Gangguan terjadi akibat kekurangan enzim
koproporfirinogen oksidase yang mengkatalisis perubahan
koproporfirinogen III menjadi protoporfirinogen IX. Koproporfirinogen
III yang berlebihan akan diekskresi melalui urine dan feces yang segera
dioksidasi menjadi koproporfirin yang berwarna merah. Disini terjadi
hambatan pembentukan heme terutama dalam keadaan stres, sehingga
menyebabkan derepresi AmLev sintase, akibatnya terjadi penumpukan AmLev,
porfobilinogen dan intermediet-intermediet heme proksimal terjadinya
hambatan. Pada penderita ini terjadi penumpukan AmLev dan porfobilinogen
dan sedikit gejala foto sensitifitas oleh karena terjadi kelebihan
koproporfirinogen dan uroporfirinogen. Pemberian infus hematinakan
memberikan perbaikan terhadap penderita.
- Porfiria Varigata (Variegate Porphyria)
Merupakan penyakit yang diturunkan secara
autosomal dominan. Gangguan terjadi akibat hambatan parsial perubahan
protoporfirinogen menjadi heme dan tampaknya yang bertanggungjawab
adalah 2 enzim dalam mitokondria yaitu protoporfirinogen oksidase dan
ferokelatase. Kultur sel fibroblas kulit dari penderita ini menunjukkan
hanya 50% dari batas normal enzim protoporfirinogen oksidase. Penderita
menunjukkan defisiensi heme yang relatif pada keadaan stres dan terjadi
derepresi dari AmLev sintase. Pada penderita ini diekskresi AmLev,
porfobilinogen, uroporfirin, koproporfirin didalam urine dan
uroporfirin, koproporfirin dan protoporfirin dalam fecesnya. Penderita
menunjukkan fotosensitifitas pada kulitnya.
- Porphyria Cutanea Tarda
Merupakan penyakit yang diturunkan secara
autosomal dominan tetapi baru muncul terutama bila terjadi kerusakan
hati. penyakit ini merupakan jenis porfiria yang paling sering dijumpai.
Biasanya berhubungan dengan beberapa kerusakan hati terutama oleh
karena terlampau banyak alkohol atau besi. Penyebab gangguan metabolisme
sebenarnya belum diketahui dengan jelas, tetapi mungkin disebabkan
defisiensi parsial enzim uroporfirinogen dekarboksilase.Urine penderita
mengandung uroporfirin I dan III yang meningkat tetapi jarang dijumpai
peningkatan ekskresi AmLev dan porfobilinogen dalam urine. Di dalam hati
terdapat banyak porfirin sehingga menunjukkan fluoresensi yang kuat.
Manifestasi klinis utama pada penderita ini adalah fotosensitifitas pada
kulitnya.
- Erythropoetic Protoporphyria
Disebabkan defisiensi parsial dari
aktifitas enzim ferokelatase yang herediter dominan pada mitokondria
semua jaringan. Gejala klinis sering berhubungan dengan urtikaria akut
oleh sinar matahari. Protoporfirin IX meningkat didalam eritrosit,
plasma dan feces, sedangkan kulit dan retikulosit menunjukkan
fluoresensi merah
.
Disebabkan oleh zat-zat yang toksik seperti heksaklorobenzen, timbal, garam logam berat dan obat-obatan seperti griseofulvin. Logam berat menghambat beberapa enzim yang berperanan pada sintesis heme termasuk AmLev dehidratase, uroporfirinogen sintase dan ferokelatase. Timbal dapat terikat pada gugus SH ferokelatase dan AmLev dehidratase sehingga aktifitasnya terganggu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar